Sempat Kontroversi, Inilah Fakta Unik Tentang Esport

Belakangan esport makin populer meski dulu industri ini sempat mendapat kecaman dari beberapa pihak. Faktanya, esport malah makin berkembang dan memiliki banyak peminat. Ternyata dibalik popularitas esport yang makin gemilang, ada beberapa fakta unik tentang esport yang menarik untuk diperbincangkan, lho !

Esport dan Statistiknya di Indonesia

Esport merupakan singkatan dari electronic sport atau olahraga elektronik, yang merupakan ajang kompetisi video game.

Saat ini, kehadiran esport begitu populer, di mana hal ini dibuktikan dari tingginya peminat dalam setiap turnamen.

Komunitas esport di Indonesia sebagian besar berada di Jakarta, lalu diikuti oleh Surabaya dan Medan, dengan kelompok usia 26-37 tahun.

Untuk aspek distribusi gender, esport Indonesia masih didominasi oleh laki-laki yakni sebesar 53%, sementara wanita sebesar 47%.

Sementara hasil riset Decision Lab mengungkapkan bahwa genre esport paling diminati di Indonesia adalah Multiplayer Online Battle Arena (MOBA).

Fakta Unik Tentang Esport

Seiring semakin populernya industri esport, ternyata banyak pula fakta unik yang bisa kamu ketahui, lho. Berikut adalah beberapa fakta unik esport !

1. Memiliki Batas Umur

Sempat dikecam karena dikhawatirkan memberikan banyak distraksi bagi anak dibawah umur, ternyata esport memiliki batas umur, lho. Menurut para atlet, batas umur kondisi fit seorang atlet e-sport adalah pertengahan 20 tahun. Hal ini disebabkan refleks mereka yang cepat dan memiliki jiwa kompetitif yang tinggi.

Meski begitu, bukan berarti para atlet tidak bisa memperpanjang karir mereka. Rene Pinkera, atlet World of Warcraft, bisa memperpanjang umur karirnya hingga lima tahun dari rata-rata yang seharusnya.

2. Memiliki Denyut Nadi Setara Atlet Marathon

Memang para atlet e-sport tampak seperti yang hanya terduduk di depan layar kaca komputer. Namun, menurut sebuah hasil penelitian aktivitas tersebut ternyata lebih kompleks dari yang dibayangkan, lho.

Mereka yang bermain dengan strategy game mempunyai denyut nadi dari 160 hingga 180 denyutan dalam satu menit. Setara dengan denyut nadi atlet marathon, bukan?

3. Potensi Peraup Keuntungan

Tentunya, bagi pihak penyelenggara pengadaan kompetisi esports membutuhkan modal yang tidak sedikit. Namun, ternyata keuntungan yang didapat juga besar, lho. Keuntungan ini berasal dari penjualan merchandise ataupun pendapatan melalui iklan-iklan.

Seiring perkembangan esports yang kian menanjak, potensi keuntungannya juga makin gemilang. Saat ini keuntungan dari komoditas esport berada pada kisaran 900 juta dolar atau setara Rp 13 triliun . Fantastis, bukan?

4. Tidak Hanya Satu Cabang

Fakta unik tentang esport berikutnya adalah kompetisi ini tidak hanya memiliki satu cabang. Apabila kompetisi mengusung nama yang sama dengan game, tentu sudah pasti game tersebut yang dipertandingkan.

Misalnya, saat MPL Season 2 yang hanya mengusung game Mobile Legends. Namun beda cerita bila merujuk pada event lain seperti Indonesia Esports Premier League (IESPL). Event seperti IESPL adalah contoh ajang multicabang esport

ISPL mempertandingkan banyak game diantaranya Dota 2, Counter Strike: Global Offensive (CS:GO), Mobile Legends dan Point Blank.

5. Total Hadiah Fantastis

Bagi para atlet esport, tentu industri ini cukup menjanjikan karena jumlah hadiahnya yang sangat besar. Bahkan, turnamen The International 2018 memiliki total hadiah hingga 25 juta dolar AS atau sekitar Rp 380 miliar !

Hingga saat ini, angka tersebut menjadi yang terbesar dalam sejarah penyelenggaraan e-Sports. Mengingat industri esports yang makin populer, potensi melewati total hadiah The International 2018 sangat mungkin terjadi.

6. Atlet e-Sports Juga Berlatih Fisik

Jika kamu menganggap para atlet esports tidak melakukan latihan fisik, kamu telah membuat kesalahan besar. Nyatanya, dari beragam turnamen esports dipertandingkan di seluruh dunia, para atlet selalu diberikan latihan fisik yang konsisten.

Hal ini bertujuan gara atlet tetap bisa fit dan berkonsentrasi di tengah jadwal yang padat dan durasi screen time yang panjang.

7. Platform Smartphone Meningkat

Ragam game seperti Arena of Valor, Mobile Legends dan Vainglory yang tersedia dalam platform mobile juga makin populer. Akibatnya, opsi pengadaan beragam turnamen mobile akan semakin bertambah. Apalagi mengingat kejuaraan dunia Vainglory pada tahun 2016 yang mampu meraup hingga 22.900 penonton.

Sedangkan tahun 2017, angka tersebut meningkat dua kali lipat menjadi 56.000 penonton. Tentunya, hal ini berkorelasi terhadap keuntungan yang didapat dari turnamen eSports di platform mobile.

8. Gamer Wanita Vs Gamer Pria

Sebagaimana disinggung di atas bahwa atlet pria masih mendominasi turnamen esport. Ragam nomor cabang seperti Call of Duty dan Counter Strike biasanya masih dimainkan gamer pria. Kabar baiknya, kantor riset internasional, PwC merilis data yang menunjukkan 22 persen gamers wanita mulai aktif mengikuti e-Sports.

Menariknya, hanya 18 persen gamer pria yang menyatakan dirinya aktif pada olahraga elektronik tersebut. Meski datanya masih simpang siur, namun hal ini membuktikan bahwa atlet maupun gamer wanita sudah tidak bisa diremehkan lagi kontrbusinya.

Beberapa fakta unik tentang esport ini, menjadikannya industri yang makin diminati dan memang cukup menjanjikan. Jadi, apakah kamu juga mau bergabung di dunia esport?