Media Soroti Kelemahan Timnas, Potensi Indonesia Kalah AFF

Satu langkah lagi Indonesia akan masuk ke tahap perempat final piala AFF 2020. Meski terbilang berada di posisi yang aman, beberapa media banyak yang beranggapan adanya potensi Indonesia kalah AFF tahun ini.

Sebagai masyarakat Indonesia, tentu anggapan apapun yang muncul tidak boleh sampai mempengaruhi dukungan kepada  Timnas yang berjuang di Singapura. Sebaliknya, anggapan tersebut bisa jadi cambuk dan motivasi diri bagi Timnas agar bisa memperbaiki kelemahan melawan lawan yang lebih tangguh.

9 Kelemahan yang Bisa Sebabkan Indonesia Kalah AFF

Berbagai anggapan yang muncul terkait kekalahan Indonesia tentunya bukan tanpa alasan. Berbagai media menyoroti kelemahan Timnas karena memang kondisi itu yang terlihat di lapangan. Sebagai antisipasi dan perbaikan, beberapa kelemahan Indonesia yang harus diperbaiki tersebut meliputi:

1. Minimnya Pengalaman Main Pemain Muda Indonesia

Minimnya Pengalaman Main Pemain Muda Indonesia

Gebrakan baru yang dibawa oleh pelatih Shin Tae Young adalah dengan merekrut pemain muda yang masih memiliki semangat tinggi. Dari kandidat yang dikeluarkan, 9 di antaranya masih berusia di bawah 21 tahun.

Meski menguntungkan dari semangat yang masih menggelora, namun pengalaman dari pemain muda tentunya masih sangat minim. Dengan pengalaman main yang masih terbatas, maka beberapa kelemahan berikut bisa mengancam Timnas Indonesia.

  • Gaya permainan kurang berkembang karena jam terbang pemain yang masih sedikit.
  • Mental yang tidak stabil dan mudah naik turun.
  • Tidak tahan terhadap tekanan dari lawan jika kebobolan gol.
  • Mudah melakukan kesalahan dalam metode dan teknik permainan.

2. Metode Penyerangan Mudah Terbaca

Metode Penyerangan Mudah Terbaca

Dari berbagai kemenangan yang dihasilkan Timnas Indonesia, metode penyerangannya sangat mudah dibaca lawan. Ini sangat mudah terlihat dari strategi penyerangan yang selalu sama pada setiap pertandingan yang sudah dilewati sebelumnya.

Adapun penyerangan yang dilakukan Timnas Indonesia dari beberapa pertandingan yang dilewati sebagian besar memiliki pola berikut.

  • Mengatur tendangan menyerang untuk diarahkan ke Asnawi Mangkualam.
  • Asnawi bertugas memberikan tendangan operan ke area penalti.
  • Tendangan dari Asnawi akan diselesaikan oleh striker yang ada di lokasi.
  • Sementara semua serangan yang dilakukan Timnas dimulai dari kaki pemain Evan Dimas.

Jika metode penyerangan ini masih tidak diganti, lawan selanjutnya yang lebih tangguh akan sangat mudah mengalahkan Timnas Indonesia.

3. Stamina Loyo dan Tidak Stabil

Stamina Loyo dan Tidak Stabil

Timnas Indonesia memang sangat unggul dari permainan para pemain yang terbilang cepat. Sayangnya, kecepatan bermain ini justru membuat stamina tidak stabil dan mudah kelelahan ketika mendekati akhir pertandingan.

Stamina yang dianggap loyo oleh berbagai media ini terlihat sangat menonjol ketika melawan Timnas Kamboja beberapa waktu lalu. Meski menang melawan Kamboja, stamina Indonesia menurun drastis ketika berada pada 20 menit terakhir.

Akibatnya, lawan terus memberikan tekanan di lapangan dan menyerang gawang Indonesia. Kondisi ini bisa dibaca oleh pihak lawan sehingga lawan berikutnya akan memanfaatkan kelemahan stamina Indonesia di akhir untuk mempercepat permainan dan membobol gawang lawan.

4. Kualitas Passing Kurang Baik

Kualitas Passing Kurang Baik

Passing pemain Indonesia masih terbilang cukup singkat sehingga bisa mempengaruhi potensi Indonesia kalah AFF. Padahal operan bola yang panjang juga sangat membingungkan pemain dan cukup berguna untuk menyiapkan strategi permainan.

Pelatih Shin Tae Yong sendiri sudah menggalakkan pentingnya passing bagi timnya. Selama beberapa pertandingan, memang serangan Indonesia melalui berbagai umpan ini terbilang sangat baik. Sayangnya berjalan sangat singkat sehingga kurang melemahkan stamina lawan.

Singkatnya waktu passing ini juga disebabkan karena Timnas Indonesia yang masih sangat kesulitan dalam mengatur ritme permainan sehingga kerap kali melakukan kesalahan dalam passing sendiri.

5. Pertahanan Kurang Maksimal

Pertahanan Kurang Maksimal

Keahlian menyerang Timnas ternyata juga tidak sebanding dengan pertahanannya yang terbilang masih ompong. Hampir pada semua pertandingan, Timnas Indonesia selalu longgar dalam menjaga pertahanan. Tidak heran walaupun pertandingan berakhir dengan kemenangan, tapi gawang Indonesia selalu kebobolan.

Para pemain belakang Timnas Indonesia sendiri memang belum ada yang ahli sehingga membuat pelatihnya sangat sering mengganti pemain pada lini pertahanan. Bahkan pada posisi penjaga gawang sekalipun.

Media yang selalu meliput semua pertandingan ini sangat mudah membaca kelemahan Indonesia dari segi pertahanannya. Ini diprediksikan bakal membuat Indonesia kewalahan menghadapi lawan selanjutnya yang lebih kuat, karena sebagian besar lawan ahli dalam memberikan serangan balik.

6. Tidak Punya Skema Menyerang Balik

Tidak Punya Skema Menyerang Balik

Tim Indonesia termasuk golongan pemain yang menggunakan pola defensif. Penganut pola ini seharusnya menambahkan skema rancangan serangan balik yang baik dalam permainan. Dengan begitu, pola bertahan yang masih lemah dari pemain Indonesia bisa teratasi.

Padahal dengan pola penyerangan yang sudah baik, maka skema serangan balik bisa menekan psikologi lawan sehingga kehilangan strategi untuk mengalahkan Timnas Garuda.

Lemahnya skema serangan balik dari Indonesia bisa terlihat jelas saat melawan Vietnam beberapa waktu lalu. Hingga akhir permainan, Timnas Garuda sama sekali tidak membuat skema serangan balik sehingga Vietnam bisa leluasa melancarkan tembakan berulang kali ke gawang Indonesia.

7. Sering Melakukan Pelanggaran

Sering Melakukan Pelanggaran

Di berbagai laga dan pertandingan, Indonesia tidak pernah bersih dari pelanggaran. Bahkan terbilang sangat banyak melakukan pelanggaran dari para pemainnya. Pelanggaran yang dilakukan Indonesia biasanya tidak sengaja dilakukan ketika kondisi pertahanannya sudah terdesak.

Selain mencemarkan nama pemain Timnas yang kurang bersih, pelanggaran yang dilakukan para pemain justru bisa menjadi ancaman yang membahayakan tim sendiri.

Apabila pelanggaran tidak fatal dan ada di luar garis rawan, mungkin tidak akan memberikan pengaruh yang berarti. Sebaliknya, pelanggaran yang dilakukan ketika terancam tepat saat penyerang berada di dalam kotak penalti, tentunya sangat membahayakan Timnas Indonesia sendiri yang terancam bisa mendapat tendangan penalti.

8. Ritme Permainan Tidak Teratur

Ritme Permainan Tidak Teratur

Serangan balik yang tidak pernah dilakukan Timnas Indonesia ternyata tidak lepas dari pola permainan yang tidak teratur ritmenya. Akibatnya, distribusi bola kurang cakap dan mudah dikuasai oleh lawan. Para pemain Indonesia sebagian besar tidak memiliki keahlian yang baik dalam mempertahankan bola melalui operan.

Ini juga mudah terlihat publik ketika Indonesia bertanding melawan Vietnam. Timnas Indonesia yang berhasil merebut bola tidak bisa bertahan lama dan melepaskan pressing yang kuat. Akibatnya bola sangat mudah direbut lawan.

Jika ritme permainan diperbaiki dan pemain bertahan cakap dalam mengatur ritme permainan, tentu saja bola tidak mudah direbut. Kalau tidak ada perbaikan hingga pertandingan melawan Malaysia yang akan datang, Indonesia sangat mudah terkena serangan balik dari lawan yang justru mengancam gawang.

9. Tidak Ada Antisipasi di Lini Kedua

Tidak Ada Antisipasi di Lini Kedua

Kekuatan Timnas Indonesia juga mulai diragukan dan disoroti karena antisipasi ancaman pada lini kedua terlihat sangat kurang. Tendangan jarak jauh yang dilakukan lawan sering kali tidak mendapat antisipasi yang baik dari Timnas Indonesia.

Apabila lawan berikutnya ahli dalam memberikan eksekusi bola jarak jauh, tentu saja potensi Indonesia untuk kalah menjadi lebih besar.

Dengan 9 alasan yang dipaparkan beberapa media dan pengamat bola di atas, maka potensi Indonesia kalah AFF memang jadi lebih besar. Untuk mencegahnya, pelatih Timnas Indonesia harus bisa mengubah strategi yang mudah terbaca dan memperbaiki pertahanan Indonesia yang dinilai masih kurang maksimal.